Welcome to Indonesia Hebat

Website nomor 1 Indonesia
Saatnya kebaikan membawa Indonesia Hebat kembali menjadi Macan Asia bersama Jokowi-JK

Smiley face

BLOG INDONESIA HEBAT SALAH SATU MEDIA ONLINE PENDUKUNG JOKOWI-AHOK

Kamis, 09 Maret 2017

BAU BUSUK DI MEGA KORUPSI e-KTP

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai BAU BUSUK DI MEGA KORUPSI e-KTP

Sebagaimana telah diketahui bersama, ada yang aneh dalam cuitan akun Twitter Andi Arief ketika KPK bongkar mega korupsi e-KTP, kaki tangan Cikeas tersebut justru menyebut bahwa kasus e-KTP tersebut biasa-biasa saja


Upaya Andi Arief dalam mengecilkan kasus mega korupsi e-KTP tersebut menunjukkan bahwa dia sedang mencari akal untuk menutup rapat penyebaran bau busuk Cikeas dalam kasus mega korupsi e-KTP tersebut, namun yang namanya bau busuk pasti tersebar. Ditutupi serapat apapun, bau busuk tersebut akan tercium juga, apalagi yang menutupi juga berbau busuk

Semua orang di seluruh Indonesia mengetahui bahwa kasus mega korupsi e-KTP terjadi di era kepemimpinan Lurah Cikeas dan juga mengetahui bahwa dalam 2 periode pemerintahan SBY tersebut korupsi merajalela, mulai dari kasus Bank Century, kasus Hambalang, kasus e-KTP, kasus Garuda, kasus makelar pajak hingga korupsi dana haji dan KPK didesak untuk menuntaskan kasus besar yang mangkrak di era SBY

Di antara sejumlah kasus tersebut di atas, kasus E-KTP menyangkut dana yang sangat besar, yaitu operasi gelap penilepan Rp 5,9 Triliun uang rakyat, bahkan saking besarnya dana e-KTP, KPK yang dulu sudah pernah mengirim surat ke SBY dan mewanti-wanti pembuatan e-KTP tersebut dapat menjadi bancakan korupsi, namun Lurah Cikeas sepertinya tidak peduli dengan peringatan KPK tersebut dan proyek bancakan tersebut terus berjalan, bahkan SBY sampai mengeluarkan 5 Perpres untuk menutupi kebrorokan proyek e-KTP, yaitu Perpres No. 26 tahun 2009, Perpres No. 35 tahun 2010 (perubahan pertama), Perpres No. 67 tahun 2011 (perubahan kedua), Perpres No. 126 tahun 2012 (perubahan ketiga) dan terakhir Perpres No. 112 tahun 2013 sebagai perubahan keempat

Mega korupsi e-KTP melibatkan 3 aktor utama, yaitu rezim Cikeas yang berkuasa, politisi kaki tangan Cikeas di DPR serta pengusaha kroni bisnis Cikeas dan kolaborasi tiga aktor tersebut telah berkali-kali ditulis di Majalah Tempo, namun yang terpenting ialah peran dalang yang mengatur permainan tiga aktor tersebut, mulai dari tahap e-KTP direncanakan, dibicarakan di DPR hingga tahap menentukan pengusaha kroni yang memenangkan tender

Siapa yang dapat menjadi dalang pengatur proyek di era SBY ?!? Hanya ada satu kekuatan yg dapat melakukannya, yakni kekuatan yang direstui Lurah Cikeas, namun rezim Cikeas tidak bekerja sendiri, dimana Gamawan Fauzi (Mendagri era SBY) beserta anak buahnya disuruh berdiri di baris depan untuk membuat proyek tersebut gol. Selain itu, dalang pengatur proyek era SBY tersebut juga bermain di DPR, dimana strategi yang digunakan ialah warisan budaya agraris, yakni sistem Ijon (dibeli dulu sebelum panen) dan dengan strategi Ijon tersebut, proyek e-KTP berjalan mulus

Jumlah anggota DPR terbanyak di periode 2014-2019 berasal dari Partai Demokrat dengan 150 kursi dan ketua DPR saat itu juga berasal dari Partai Demokrat, yaitu Marzuki Alie. Selain itu, anggota Komisi II DPR RI terbanyak saat itu juga berasal dari Partai Demokrat

Siapa yang menjadi penyandang dana politik untuk menutupi mega korupsi e-KTP tersebut ?!? Cikeas harus kembali ke Cikeas, sehingga mudah untuk mencium aroma kong kalikong antara Dalang Cikeas dengan pengusaha kroni Cikeas dan juga bohir untuk menutupi biaya-biaya politik dari proyek e-KTP tersebut

Berdasarkan pengakuan Nazaruddin, kong kali kong dilakukan semenjak menentukan PT Sandipala Arthaputra sebagai salah satu pemenang tender dan selain PT Sandipala Arthaputra, ada PNRI (Percetakan Negara Republik Indonesia), PT Sucofindo, PT LEN Industri (Persero) dan PT Quadra Solution. Diloloskannya PT Sandipala Arthaputra sebagai salah satu pemenang tender tersebut karena perusahaan tersebut merupakan kroni Cikeas, dimana bos PT Sandipala Arthaputra, yaitu Paulus Tenos adalah kolega Gamawan Fauzi (Mendagri SBY) yang mengatur proyek e-KTP

Setelah itu Dalang Cikeas mulai mengatur pencetakan blanko e-KTP, dimana sebanyak total 60% diserahkan kepada PT Sandipala Arthaputra, sementara PNRI (Percetakan Negara Republik Indonesia) hanya 40% dan hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak lazim, karena seharusnya PNRI (Percetakan Negara Republik Indonesia) yang mencetak lebih banyak dibanding PT Sandipala Arthaputra

Selanjutnya, Dalang Cikeas mengatur PT Sandipala Arthaputra untuk meminta pasokan dari "PERUSAHAAN X" yang diketahui dimiliki oleh anak pengusaha Tommy Winata yang bernama Andi Winata. Perusahaan milik Andi Winata-lah yang mencetak blangko e-KTP, dimana taipan Tommy Winata dikenal memiliki hubungan sangat dekat dengan Cikeas dan foto kedekatan keluarga Tommy Winata dengan Lurah Cikeas beredar luas di jagad maya


BAU BUSUK DI MEGA KORUPSI e-KTP


Untuk menutupi jejak mega korupsi e-KTP yang dilakukan tersebut, keuntungan proyek e-KTP kemudian dibagi-bagi kepada semua yang terlibat, mulai dari anggota DPR, pejabat Kemendagri hingga perusahan pemenang proyek dan karena melibatkan persengkongkolan 3 aktor, operasi bancakan tersebut seolah-olah akan mulus, tersimpan rapi dan tidak akan menimbulkan masalah

Meski demikian, semua skenario untuk menutupi penilepan uang rakyat tersebut menjadi berantakan, karena nyanyian Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat) ke KPK yang menjadi senjata KPK untuk mengusut kasus mega korupsi e-KTP tersebut, sehingga aroma bau busuk mulai tersebar dan ketika KPK mulai menangkap para pelakunya, SBY justru senaknya no comment, padahal mega korupsi e-KTP tersebut terjadi di era kepemimpinan SBY

Rupanya Lurah Cikeas tidak dapat lagi mengendalikan anak buahnya yang sibuk sebagai "kapal keruk" dengan kavling masing-masing, sehingga membuat setoran ke Lurah Cikeas justru tambah seret, karena masuk ke kantong masing-masing dan menyebabkan pecah perang saudara di antara Gurita Cikeas, yaitu antara Lurah Cikeas dengan anak buahnya yang mulai menyempal, dimana Anas Urbaningrum dan Nazaruddin yang awalnya menjadi kaki tangan SBY kini justru menjadi lawan seteru

Perang saudara tersebut telah membongkar bau busuk Cikeas yang ternyata meninggalkan jejak di mana-mana, dimana Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat) mengetahui banyak mengenai permainan Cikeas dan kaki tangannya dan Nazaruddin juga tidak mau terperosok jurang sendiri. Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat) menggunakan informasi tersebut untuk tekan kiri dan kanan

Bagi Cikeas dan kaki tangannya, mulut Nazaruddin berbisa, sehingga semburan bisa Nazaruddin harus diarahkan ke target yang tepat. Awalnya, mulut Nazaruddin yang berbisa tersebut dipakai Cikeas untuk membinasakan Anas Urbaningrum dan pengikutnya, dimana Anas Urbaningrum dikorbankan Cikeas untuk menyelamatkan Cikeas masuk jurang dan amputasi terhadap Anas Urbaningrum pun dilakukan

Nazaruddin juga menggunakan mulutnya untuk menggertak Cikeas, dimana berkali-kali dia menyebut nama Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus Hambalang, namun hal tersebut merupakan cara Nazaruddin untuk membuat Cikeas harus melindungi dirinya serta menjamin kehidupannya selama di penjara. Cikeas menggunakan taktik memelihara mulut Nazaruddin, karena setiap sat mulut Nazaruddin dapat menyalak dan sasaran mulut Nazaruddin bukan hanya Cikeas, namun juga menyeret politisi Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang pernah menjadi pimpinan komisi 2 DPR dan di Banggar, padahal politikus Partai Golkar dan Partai Demokrat (2011-2012) menerima duit ijon paling besar, yaitu masing-masing sebesar Rp 150 Miliar (di luar bagian untuk masing-masing petinggi fraksi kedua partai tersebut)

Angelina Sondakh saat menjadi saksi skandal suap dan pencucian uang yg menjerat Nazaruddin tersebut memberi kesaksian bahwa dua petinggi Partai Demokrat, yaitu Anas Urbaningrum dan Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyetujui Nazaruddin untuk melakukan korupsi dan karena ada nama Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam mega korupsi e-KTP tersebut, dirancanglah skenario pengalihan isu korupsi e-KTP ke Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang mendapatkan momentumnya saat Pilkada DKI Jakarta 2017 sedang seru-serunya, dimana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pernah menjadi anggota Komisi 2 DPR saat proyek e-KTP tersebut berjalan

Dengan mengangkat isu keterlibatan anggota Komisi 2 DPR dalam mega korupsi e-KTP tersebut, Cikeas telah memainkan jurus "nabok nyilih tangan", dimana beberapa pihak menggunakan kasus tersebut untuk melakukan kampanye negatif terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan skenario lainnya ialah dengan mengalihkan perhatian dari keterlibatan Cikeas dan kaki tangannya tersebut kepada keterlibatan orang-orang dalam pemerintahan Jokowi-JK yang sebelumnya menjadi pimpinan dan anggota komisi 2 DPR

Nama-nama besar tersebut disebut dengan harapan untuk menciptakan tsunami politik dalam pemerintahan Jokowi-JK, padahal sudah jelas dari awal bahwa mega korupsi E-KTP tersebut terjadi di era SBY dan bukan di era Jokowi-JK. Kasus mega korupsi e-KTP tersebut harus dibongkar sampai akar-akarnya, dimana siapa yang terlibat harus diusut tuntas oleh KPK, mulai dari dalangnya, Mendagri dan anak buahnya, politisi di DPR hingga pengusaha kroni Cikeas, karena korupsi berjamaah mega proyek e-KTP tersebut mustahil dapat terjadi tanpa diketahui oleh Lurah Cikeas dan aneh pula bila ada upaya dari anak buah Cikeas untuk melakukan cuci tangan, mengalihkan perhatian maupun upaya menutup-nutupi mega korupsi e-KTP tersebut

KPK harus berani masuk sampai menemukan dalangnya dan KPK tidak perlu khawatir dengan dendam Lurah Cikeas ke KPK, dimana bagi Lurah Cikeas, keberanian KPK untuk menyentuh Gurita Cikeas telah melewati batas. Keberanian Antasari Azhar menyentuh Aulia Pohan dan menyelidiki kasus IT KPU serta mengungkap nama Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus IT KPU saat itu tidak dapat ditolerir lagi, sehingga Antasari Azhar harus disingkirkan

KPK juga jangan gentar dari upaya kaki tangan Gurita Cikeas di DPR untuk memperlemah KPK melalui gertakan revisi UU KPK dan jangan mau berkompromi untuk menutupi bau busuk yang telah ditabur sepuluh tahun oleh Gurita Cikeas. Untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit di bawah ini


BAU BUSUK DI MEGA KORUPSI e-KTP




a

By: Rudy Haryanto

BERTAMBAHNYA LAWAN AHOK SELAIN ANIES-SANDI

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai BERTAMBAHNYA LAWAN AHOK SELAIN ANIES-SANDI

Sebagaimana telah diketahui bersama, sebenarnya yang ingin Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) cuti walau tidak ada aturannya ialah para pendukung Anies-Sandi dan para pembenci Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). KPU DKI Jakarta bahkan membuat aturan sendiri yang tidak ada dalam UU dan PKPU. Pertanyaannya ialah apakah KPU DKI Jakarta membuat aturan sendiri yang tidak ada dalam UU dan PKPU tersebut untuk menjegal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ?!? Mengapa Ahok-Djarot disuruh cuti pada tanggal 07 Maret 2017, padahal kampanye tanggal 06 april 2017 ?!? Kenapa KPU DKI Jakarta merubah aturan di tengah pertandingan ?!? Apakah KPU DKI Jakarta ingin menjegal Ahok-Djarot ?!?

Kalau Mendagri Tjahjo Kumolo akhirnya menyetujui Ahok-Djarot cuti pada tanggal 07 Maret 2017, tidak ada masalah, karena mungkin beliau tdk mau ribut-ribut, namun fakta yg diungkap dalam artikel ini bukan karena takut Ahok-Djarot cuti, melainkan sebagai pembuktian terkait posisi KPU DKI Jakarta terhadap Ahok-Djarot, dimana Ahok-Djarot dan timnya sudah harus menerima kenyataan bahwa lawan mereka bukan hanya Anies-Sandi, namun juga ada pemain baru yang namanya KPU DKI Jakarta yang menggunakan kewenangan untuk membuat keputusan yang tidak ada dalam UU Pilkada dan PKPU, lalu merubah aturan main di tengah jalan. Permainan telah berlangsung dan aturan telah ada sebelum pertandingan dimulai, kemudian mereka merombak lagi agar Ahok-Djarot tidak dapat bekerja

Sekali lagi, ini bukan mengenai cuti, namun mengenai pelanggaran aturan dan merubah aturan yang telah ada di tengah jalan, dimana hal tersebut tidak adil dan Ahok-Djarot serta tim harus memiliki bukti data riil di TPS dan juga saksi yang kuat di TPS, karena KPU DKI Jakarta tidak mungkin dapat diharapkan lagi, sehingga ketika terjadi hal-hal yang merugikan, Ahok-Djarot memiliki data valid untuk membantah hal-hal yang merugikan mereka tersebut

Perjuangan Ahok-Djarot harus semakin kuat, karena kini bertambah lagi lawan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta 2017, yaitu: KPU DKI Jakarta dan untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit di bawah ini




BERTAMBAHNYA LAWAN AHOK SELAIN ANIES-SANDI


By: Rudy Haryanto

Rabu, 08 Maret 2017

RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO

Sebagaimana telah diketahui bersama, seperti kata pepatah "habis manis sepah dibuang", begitulah cara Rizieq Shihab dan FPI memperlakukan dinasti Cikeas, dimana saat ini Rizieq Shihab dan FPI dan kelompoknya mendadak rindu dinasti Soeharto dan hal tersebut diperkuat dengan kembali terkuaknya pertemuan Rizieq Shihab dan FPI dengan Tommy Soeharto (Pangeran Cendana) ke publik


RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO


Tengku Zulkarnain bahkan nangis bawang bombay dan mengatakan dirinya sedang merindukan Pak Harto



Hal tersebut justru semakin memperlihatkan bahwa Rizieq Shihab dan FPI tersebut sedang merapat dan merajuk ke Gurita Cendana. Sebelumnya, kita telah memetakan hubungan Rizieq Shihab dan FPI dengan Gurita Cendana dan Gurita Cikeas dalam pembiayaan #Aksi411, #Aksi212 dan seterusnya, dimana hubungan Rizieq Shihab dengan Cendana dijalin melalui Firza Husein (Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana)

Firza Husein yang merupakan sang perantara tersebut semakin lengket dengan Rizieq Shihab hingga muncul kisah cinta yang bersemi di kandang kambing dan akhirnya kisah percintaan gelap tersebut berhasil dibongkar polisi. Hal tersebut membuat Pangeran Cendana harus menggunakan jurus "putus ekor cecak" untuk menghilangkan jejak


RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO


Pangeran Cendana membuat skenario seolah-olah tidak mengenal Firza Husein, bahkan muncul drama somasi dan gugatan yang ditujukan kepada Firza Husein, namun hal tersebut jelas merupakan taktik Tommy Soeharto untuk menghindar dari terperosok ke lubang bersama Rizieq Shihab dan Firza Husein. Polisi dari awal telah mengendus keterlibatan Cendana dalam pembiayaan aksi Rizieq Shihab dan FPI melalui tangan Firza Husein

Selanjutnya, jejak Firza Husein sebagai kaki tangan Cendana dipotong oleh Tommy Soeharto sendiri dengan harapan Pangeran Cendana dapat berkelit dari tuduhan sebagai donatur makar dan #Aksi411 serta #Aksi212. Tidak lama berselang, Dinasti Cendana merubah strategi, dimana mereka mulai unjuk gigi dengan turun langsung ke gelanggang. Selain Tommy Soeharto, Mamiek Soeharto dan Titiek Soeharto juga mulai beraksi. Di belakang mereka ada Tutut Soeharto, Sigit Soeharto dan Bambang Soeharto

Sebelumnya, Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto paling aktif dalam panggung politik mengikuti jejak Tutut Soeharto yang pernah mendirikan PKPB. Titiek Soeharto mulai masuk ke dunia politik melalui jalur Partai Golkar, bahkan di era ARB, Titiek Soeharto menjadi salah satu Wasekjen DPP Partai Golkar dan selanjutanya Titiek Soeharto menjadi Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar 2016-2019

Tommy Soeharto awalnya juga pernah mendirikan Partai Nasional Republik dan selanjutnya aktif di Partai Golkar sebagai anggota Dewan Pembina, namun dalam perjalanan, diam-diam Tommy Soeharto mendirikan partai baru, yaitu Partai Berkarya. Rupanya Tommy Soeharto tidak sabar ingin bertarung dalam Pemilu 2019 dan dia juga memiliki skenario politik lain, yakni melalui jalur extra parlementer. Momentumnya Tommy Soeharto tersedia pada kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dimana melalui Firza Husein, Rizieq Shihab mulai digarap dan dana juga mulai dialirkan dengan tujuan utamanya bukanlah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), melainkan Joko Widodo (Jokowi), karena keluarga Cendana melihat Joko Widodo (Jokowi) sebagai penghalang utama bisnis Cendana

Kekuatan oligarki ekonomi puluhan tahun di sektor migas dan bisnis kroni Cendana dipangkas di era Joko Widodo (Jokowi) dan Riza Chalid (karib keluarga Cendana) juga tidak berkutik di era Joko Widodo (Jokowi), dimana jaringan mafia migas yang dibangun puluhan tahun diobrak-abrik

Selain itu, Joko Widodo (Jokowi) juga tidak mau kompromi dengan kasus-kasus KKN keluarga Cendana di masa lalu dan juga tidak mau kompromi dengan keluarga Cendana dalam kasus Yayasan Supersemar, dimana dalam kasus Yayasan Supersemar, Cendana dikalahkan oleh negara di pengadilan dan upaya hukumnya terhenti di Mahkamah Agung (MA). Karena telah berkekuatan hukum tetap, Jaksa Agung bersikap tegas untuk mengeksekusi putusan Mahkamah Agung (MA)


RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO


Upaya lobi yang dilakukan Gurita Cendana tidak membuahkan hasil, dimana Joko Widodo (Jokowi) kokoh tidak bergeming seperti batu karang dan sikap keras Joko Widodo (Jokowi) tersebut memunculkan kemarahan Cendana. Bagi Cendana, Joko Widodo (Jokowi) anak ndeso dari Solo yang harus dikasih pelajaran

Joko Widodo (Jokowi) menjadi penghalang bisnis kroni Cendana, sehingga Joko Widodo (Jokowi) harus diturunkan dengan berbagai cara dan jalan bagi keluarga Cendana terbuka dengan menggunakan Rizieq Shihab dan FPI. Mobilisasi massa ala Arab Spring mempertautkan Gurita Cendana dengan Gurita Cikeas

Cendana dan Cikeas menggunakan kekuatan uangnya untuk menggerakkan Rizieq Shihab dan FPI, tentu saja dengan bantuan Bohir mafia migas dan memasuki putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, manuver keluarga Cendana makin terbuka dan tidak sembunyi-sembunyi lagi dengan sasaran utamanya ialah Joko Widodo (Jokowi)

Cendana masih tetap memakai kartu politik SARA dengan tetap memelihara Rizieq Shihab dan FPI yang dipaksa berduet dengan Yapto dan Pemuda Pancasila, dimana walaupun di lapangan anak buah mereka sering berseteru untuk memperebutkan lapak, namun dengan kekuatan uangnya, Tommy Soeharto berhasil mempersatukan Pemuda Pancasila dan FPI


RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO


Keluarga Cendana saat ini mulai bergerak, dimana pada tanggal 11 Maret 2017 Cendana menggelar acara shalawat peringatan Supersemar di Masjid At Tien Taman Mini dan melalui bungkus acara shalawat, keluarga Cendana secara terbuka menggoreng kembali pengentalan politik SARA dan juga tidak malu-malu lagi menyampaikan dukungan politik kepada Anies-Sandi

RIZIEQ FPI MENDADAK RINDU SOEHARTO


Anies-Sandi merupakan pintu masuk Gurita Cendana untuk selanjutnya menggergaji kekuatan Joko Widodo (Jokowi) di DKI Jakarta dan Dengan cara memberikan dukungan kepada Anies – Sandi, dinasti Cendana mulai turun ke pertempuran. Cendana dengan kekuatan uangnya dapat menggunakan kaki tangannya, yaitu Rizieq Shihab dan FPI serta Yapto dan Pemuda Pancasila, agar dapat mempertahankan gurita kroni-kroni bisnis Cendana

Itulah sebabnya mengapa akhir-ahir ini Rizieq Shihab dan FPI mendadak rindu Soeharto dan untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit di bawah ini




By: Rudy Haryanto