IHSG 2017 Ditutup Tembus Level 6.000, Tertinggi Sepanjang Sejarah Indonesia

Sepanjang 2017, pasar saham di Indonesia memperlihatkan pencapaian yang patut dibanggakan. Pasalnya, selain terjadi penguatan tren  yang konsisten sepanjang waktu juga terjadi pemecahan rekor tertinggi (all-time high) sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus angka  baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, di atas level 6.000.

Tentu saja pencapaian itu tidak didapatkan dengan mudah. Pada perdagangan pembuka di awal 2017, ketika beberapa bursa regional di negara-negara Asia menguat, perdagangan IHSG di BEI justru menurun. 


Bila dibandingkan dengan penutupan pada Desember 2016 yang berada di level 5.296, pada 3 Januari 2017 IHSG justru melemah 6.3 poin di level 5.290,39. Namun secara keseluruhan, pada pekan perdana, IHSG mengalami tren penguatan 0,95 % ke level 5.347,02 dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 5.808,51 triliun.


Tren positif ini terus sepanjang Kuartal I. Kecenderungan ini dirasakan sepanjang Februari dan Maret. Seperti dicatat laman Kompas.com, walaupun IHSG sempat mengalami koreksi hingga 0,33 % (17.805 poin) ke level 5.368,887 paska diterbitkannya data inflasi pada 1 Maret 2017.


Namun setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve menaikkan suku bunga dalam kisaran 0,75-1 %, pada pertengahan Maret, IHSG kembali meningkat, bahkan menembus level 5.500. Kecenderungan itu terus meningkat sepanjang April 2017, ketika IHSG lagi-lagi memecahkan berbagai rekor dan menempatkannya di kisaran level 5.600.


Secara keseluruhan, laman Bisnis.com mencatat  pada kuartal I  IHSG mengalami penguatan 5,12 % di level 5.568,1 dengan kapitalisasi pasar yang terus meningkat, bahkan mencapai tingkat tertinggi sebesar Rp 6.078 triliun pada 30 Maret 2017.



Predikat “Investment Grade”

Konsistensi IHSG terus bertahan sepanjang Mei 2017. Berbagai sentimen positif, termasuk pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada kuartal I menyebabkan IHSG meningkat ke level 5.683 pada awal Mei. 

Pencapaian ini membuat Indonesia mendapatkan predikat layak investasi (investment grade)  dari  lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s pada 19 Mei 2017. Walhasil pada hari yang sama  IHSG mencacat rekor baru karena perdagangan saham melonjak hingga 174,79 poin (3,09 %) ke level 5.820.


Namun tren positif yang dicapai IHSG ini bukan tanpa risiko karena  kenaikan indeks menyebabkan pula peningkatan harga saham.  Hal ini  disampaikan ahli-ahli strategis ekuitas dari  Morgan Stanley, Aarti Shah dan Sean Gardiner. Dalam riset yang dipublikasikan pada 4 April 2017 di Bloomberg, seperti dilansir Tirto.id,  diproyeksikan akan terjadi pertumbuhan laba di bawah konsensus,  sekitar 7 % pada 2017 karena berlimpahnya dana dari investor asing. 


Sampai akhir Maret, mereka lebih banyak membeli daripada menjual dengan nilai hingga Rp 8,34 triliun.  Selain karena hasil rapat Federal Reserve yang masih mempertahankan suku bunga rendah dan kecenderungan Fed yang tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga, arus dana masuk itu ditenggarai karena berakhirnya Pilkada Jakarta dan masih tertinggalnya harga saham di Pasar Indonesia dibanding di tempat lain. 


Sebagian prediksi hasil riset ini terbukti mewujud, walaupun sepanjang Juni dan Juli 2017 secara konsisten terjadi tren penguatan. Bahkan IHSG kembali mencetak rekor tertinggi, menembus level 5.900 pada 3 Juli 2017. Kebijakan Bank Indonesia (BI), seperti ditampilkan di laman Kompas.com, untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate hingga 25 basis poin menjadi 4,5 % pada Agustus 2017 direspon IHSG dengan penguatan hingga 23,55 poin ke level 5.903, 847. 


Namun seperti yang diperkirakan sebelumnya, pada akhir bulan yang sama, penurunan perdagangan enam sektor strategis membuat  IHSG tergerus selama empat hari berturut-turut. Pada perdagangan 31 Agustus 2017, bahkan nilainya melorot hingga 8,45 poin ke level 5.864,05, sekaligus menutup perdagangan di kuartal II. 



Menembus Digit  Enam

Memasuki kuartal III, IHSG berangsur-angsur mulai bangkit. Sepanjang September dan Oktober 2017, nilainya telah kembali menyentuh level 5.900. Bahkan, menurut laman Kompas.com pada 2 Oktober, IHSG telah mencapai  nilai  tertinggi di level 5.936 atau terbaik dalam sepuluh tahun terakhir. Artinya, orang yang masih membeli saham satu dasawarsa yang lalu memiliki pontensi untuk meraup keuntungan hingga lima kali lipat, jika dijual pada saat ini.

Kejutan demi kejutan tak berhenti di situ. Pada perdagangan 25 Oktober 2017, IHSH lagi-lagi memecahkan rekor, bahkan menembus level 6.000. Itulah sebabnya di akhir bulan yang sama kapitalisasi pasar BEI telah bernilai Rp 6.602,76 triliun.


Menurut Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, seperti termuat dalam laman Kompas.com pencapaian ini  menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen pada kinerja pemerintah. Selain itu, kinerja cemerlang para emiten berkontribusi besar  pada penguatan IHSG hingga menembus level 6.000. 



IHSG sempat kembali melemah pada bulan November. Pada perdagangan terakhir di bulan ini, misalnya IHSG mengalami penurunan hingga 109,23 poin  (1,80 %) dan kembali berada di level 5.952,14.  Namun memasuki bulan Desember, terjadi peningkatan signifikan yang membuat nilai IHSG melonjak drastis.  Bila pada 15 Desember, IHSH telah mencetak rekor tertinggi di level 6.119.41, maka tak sampai seminggu kemudian nilai itu telah berada di level 6.183,39. 

Kiprah lembaga peringkat internasional Fitch Ratings yang menaikkan peringkat hutang Indonesia menjadi BBB dengan keluaran yang stabil, berdampak positif pada IHSG. Pasalnya, pada penghujung 2017, terjadi pemecahan rekor perdagangan IHSG secara beruntun. Pada hari terakhir perdagangan (29/12), IHSG ditutup menguat di level 6.355, 65.


Kinerja baik ini membuat presiden Jokowi yang didampingi beberapa pejabat teras di negeri ini, menutup langsung perdagangan IHSG.  Apresiasi ini tentu saja tidak berlebihan. Pasalnya, menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, seperti dilansir Liputan6.com, IHSG mmengalami kenaikan hampir 20 % di akhir tahun  atau tertinggi keempat di kawasan Asia Afrika,  dan menjadi  pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pasar modal di Indonesia. 


Presiden: Harus Optimis

"Ini angka yang diluar perkiraan kita semuanya. Dulu banyak yang menyampaikan bisa 6.000 saja, kita sudah untung, sudah senang. Nah kalau sekarang 6.355 bagaimana? Saya lihat kerja keras dari Bursa Efek Indonesia patut kita apresiasi dan juga patut kita syukuri bersama," ucap Presiden Joko Widodo.


Presiden mengatakan hal itu ketika memberikan sambutan setelah menutup secara resmi perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta.

Presiden Jokowi pada penutupa IHSG 2017 (Foto: Rusman - Biro Pers Setpres)


Presiden berharap agar semua pihak tidak perlu lagi menanggapi kabar-kabar yang mengkhawatirkan dan menjadikan bangsa ini pesimis. Justru harus memanfaatkan momentum yang sangat bagus ini untuk digunakan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. 


"Kesimpulannya apa? Yang penting adalah jangan takut. Risiko selalu ada, tapi justru itu peluangnya," ujar Presiden.

Demikian seperti yang dilansir Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden. 

[]

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »