Welcome to Indonesia Hebat

Website nomor 1 Indonesia
Saatnya kebaikan membawa Indonesia Hebat kembali menjadi Macan Asia bersama Jokowi-JK

Smiley face
Tampilkan postingan dengan label hari raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari raya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Seputar Fatwa MUI tahun 1981 Terkait Umat Islam VS Perayaan dan Ucapan Natal

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Seputar Fatwa MUI tahun 1981 Terkait Umat Islam VS Perayaan dan Ucapan Natal

Sebagaimana telah diketahui bersama, berdasarkan Fatwa MUI tahun 1981 umat Islam yang mengikuti upacara Natal hukumnya haram, namun tidak ada fatwa yang menganjurkan untuk tidak atau menyatakan bahwa mengucapkan selamat merayakan Natal pada umat Kristen tersebut haram

Hal tersebut perlu dijelaskan sebelum ada oknum-oknum yang ingin merusak keberagaman di Indonesia dengan menggunakan alasan agama


Seputar Fatwa MUI tahun 1981 Terkait Umat Islam VS Perayaan dan Ucapan Natal


Tentu saja diharamkan jika seorang Muslim mengikuti ibadah non muslim dan begitu juga sebaliknya, namun mengucapkan itu tidak haram. Non muslim ikut mengaji dan sholat tentu tidak diperbolehkan oleh agamanya dan umat Muslim mengikuti ibadah natal juga tidak dibolehkan...hal tersebut adil

Fatwa MUI bukanlah hal yang wajib diikuti dan tidak mempunyai hak memaksa, karena MUI bukanlah lembaga penegak hukum, melainkan hanyalah LSM biasa. Fatwa itu sendiri merupakan pendapat atau tafsiran dari seseorang/sekelompok orang dan bukan penentu kebenaran. Sekalipun fatwa tersebut benar, tidak ada hak sama sekali bagi mereka untuk memaksakan maupun wajib mengikuti

Jika mengacu pada MUI, fatwa MUI tidak melarang umat Muslim mengucapkan selamat merayakan Natal bagi yang merayakannya. Jangan mau di provokasi bahwa mengucapkan itu dilarang dengan menjual nama MUI !!! Hati-hati, karena ada yang mau merusak Indonesia dengan cara tersebut

Negara sepertinya sudah cukup toleran dan kini waktunya untuk bertindak tegas, agar mereka sadar posisi mereka. Jika saya presiden, saya pastikan tidak ada ormas dan LSM yang spesial di negeri ini yang dapat menasbihkan diri mereka sebagai POLISI MORAL

Untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit yang ditulis pemilik akun Twitter Teddy Gusnaidi




SUMBER : "Seputar Fatwa MUI Th 1981Terkait Umat Islam Vs Perayaan & Ucapan Natal" by @Stone_Cobain

By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Selasa, 02 Juni 2015

TAHUN BARU IMLEK

Tidak ada komentar:
TAHUN BARU IMLEK
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai TAHUN BARU IMLEK

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa yang dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa Tionghoa: 正月; pinyin: zhēng yuè) dalam penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas dalam penanggalan Tionghoa (pada saat bulan purnama), dimana malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun"


TAHUN BARU IMLEK
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam, namun umumnya mereka melakukan tradisi yang sama seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru Imlek serta penyulutan kembang api dan meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, namun penanggalan Imlek di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 M diterjemahlan ke dalam Tahun Tionghoa menjadi tahun 4707, 4706 atau 4646

TAHUN BARU IMLEK
Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada perayaan tahun baru di negara tetangga dengan populasi etnis Tionghoa serta budaya di tempat etnis Tionghoa berinteraksi secara luas (termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam dan Jepang (sebelum 1873)). Di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan negara-negara lain ataupun daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan dan pada berbagai derajat sosial, perayaan Tahun Baru Imlek telah menjadi bagian dari budaya tradisional negara-negara tersebut

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK


TAHUN BARU IMLEK
Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas, dimana ada kemungkinan bahwa awal tahun dimulai pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di Tiongkok. Bulan kabisat, yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian)

Kaisar pertama Tiongkok bernama Qin Shi Huang menukar serta menetapkan bahwa Tahun Tionghoa dimulai di bulan 10 pada tahun 221 SM dan pada tahun 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah semasa Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun hingga sekarang

Tahun pertama dalam Tahun Baru Imlek (Yinli) dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi (Confucius), dimana hal tersebut dilakukan oleh Kaisar Han Wudi sebagai penghormatan kepada Kongfuzi (Confucius) yang telah mencanangkan untuk menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia yang memulai Tahun Baru pada tanggal 1 bulan kesatu

Itulah sistem penanggalan tersebut dikenal pula dengan Kongzili

ANGPAO


TAHUN BARU IMLEK
Dalam kebudayaan masyarakat China dan Asia, angpau (Hanzi: 紅包, pinyin: hóngbāo) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya. Dialek Hokkien menyebutnya angbao, Min Nan sebagai angpau, Kantonis sebagai lai see (利市/利是), Vietnam sebagai lì xì, dan Korea sebagai sae bae don (세뱃돈/歲拜돈)

Istilah angpao dalam kamus berbahasa Mandarin didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya; sogokan"

Istilah angpao berasal dari kata Hong yang berarti marga Hong; merah, populer, revolusioner, bonus" dan kata Bao yang berarti "menutupi, membungkus, memegang, memasukkan, mengurusi, kontrak, kemasan, pembungkus, kontainer, tas, menerima, bungkusan"

Pada masa Dinasti Qin di Tiongkok, orang-orang tua biasa mengikat uang koin dengan benang merah dan dinamakan yāsuì qián (壓祟錢) yang berarti "uang pengusir roh jahat" serta dipercaya dapat melindungi orang-orang tua dari penyakit dan kematian. Yāsuì qián kemudian digantikan amplop merah semenjak Tiongkok menemukan metode printing dan uang tersebut selanjutnya dinamakan yāsuì qián (壓歲錢), dimana aksara sui yang digunakan bukan berarti "roh jahat", melainkan "usia tua"


TAHUN BARU IMLEK
Angpao umumnya diberikan dalam pertemuan masyarakat ataupun keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru, hari raya seperti Tahun Baru Imlek, bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religius ataupun tempat ibadah dan sebagainya. Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi angpau oleh anggota keluarga yang lebih tua serta para undangan dan masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan angpau untuk membayar guru dan dokter

Angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, dimana warna merah angpau melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif dan itulah sebabnya angpao tidak diberikan sebagai ungkapan berbelasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut


TAHUN BARU IMLEK
Para pemberi angpao biasanya adalah pasangan yang sudah menikah dan penerimanya adalah orang yang belum menikah atau anak kecil. Beberapa orang memiliki kebiasaan untuk memberi uang dalam bentuk koin ataupun lembaran dalam jumlah banyak agar penerima tidak bisa memperkirakan jumlah uang yang diterima. Masyarakat biasanya juga melarang anak-anak untuk membuka angpao pada saat masih berkumpul bersama-sama agar tidak terjadi kecanggungan di antara para pemberi angpau karena jumlah uang yang diberikan berbeda

Jumlah uang yang ada dalam sebuah amplop angpau bervariasi, dimana untuk perhelatan yang bersifat sukacita biasanya besarnya jumlah uang dalam angka genap dan angka ganjil untuk kematian. Menurut kepercayaan etinis Tionghoa, angka ganjil dihubungkan dengan pemakaman dan angka "empat" (Hanzi=, pinyin=) homofon dengan kata "mati" (Hanzi=; pinyin= ), namun pada wilayah tertentu di China, masyarakat biasanya memberikan nominal ganjil kepada pasangan yang menikah sebagai lambang angka ganjil tidak dapat dibagi lagi

Dalam pernikahan, pemberi angpau memperkirakan nominal yang diberikan apakah dapat menutupi biaya yang dikeluarkan oleh pasangan menikah untuk menjamunya. Selain itu, nominal yang digunakan terkadang juga menunjukkan ungkapan selamat si pemberi kepada pasangan menikah, misalnya $288 (2 melambangkan pasangan dan 88 melambangkan shuangxi atau kebahagiaan berganda) atau $388 (3 melambangkan pasangan segera dianugerahi keturunan [2 orangtua + 1 anak]) dan karena angka 8 melambangkan kekayaan, orang berusaha memberi uang dalam angpau dengan nominal 8

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK DI INDONESIA

Pada tahun 1946, ketika Republik Indonesia baru berdiri, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946, dimana dalam pasal 4 ditetapkan 4 hari raya orang Tionghoa, yaitu Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu (tanggal 18 bulan 2 Imlek), Ceng Beng serta hari lahirnya Khonghucu (tanggal 27 bulan 2 Imlek) dan secara tegas dapat ditarik kesimpulan bahwa Hari Raya Tahun Baru Imlek Kongzili merupakan hari raya etnis Tionghoa


TAHUN BARU IMLEK
Namun di tahun 1968-1999, perayaan Tahun Baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum, dimana rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Tahun Baru Imlek

Orang Tionghoa yang pertama kali mengusulkan larangan total untuk merayakan Tahun Baru Imlek, adat istiadat, dan budaya Tionghoa di Indonesia kepada Presiden Soeharto sekitar tahun 1966-1967 adalah Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay. Namun, Presiden Soeharto merasa usulan tersebut terlalu berlebihan, dan tetap mengijinkan perayaan Tahun Baru Imlek, adat istiadat, dan budaya tionghoa namun diselengarakan hanya di rumah keluarga tionghoa dan di tempat yang tertutup, hal inilah yang mendasari diterbitkannya Inpres No. 14/1967

Pada 6 Desember 1967, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No.14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina yang menetapkan bahwa seluruh Upacara Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup

Inpres No. 14/1967 tersebut bertujuan untuk mengeliminasi secara sistematis dan bertahap atas identitas diri orang-orang Tionghoa terhadap Kebudayaan Tionghoa termasuk Kepercayaan, Agama serta Adat Istiadatnya dan dengan dikeluarkannya Inpres No. 14/1967 tersebut, seluruh Perayaan Tradisi dan Keagamaan Etnis Tionghoa (termasuk Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Pehcun dan sebagainya) dilarang untuk dirayakan secara terbuka dan tarian Barongsai serta Liong juga dilarang untuk dipertunjukkan secara terbuka

Selain Inpres No. 14/1967, dikeluarkan juga Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967 dan Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 286/KP/XII/1978 yang isinya menganjurkan bahwa WNI keturunan yang masih menggunakan tiga nama untuk mengganti nama tersebut menjadi nama Indonesia sebagai upaya asimilasi dan didukung oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB),dimana Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB) menganjurkan keturunan Tionghoa agar :

- Mau melupakan dan tidak menggunakan lagi nama Tionghoa
- Menikah dengan orang Indonesia pribumi asli
- Menanggalkan dan menghilangkan agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa, termasuk bahasa maupun semua kebiasaan dan kebudayaan Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk larangan untuk perayaan Tahun Baru Imlek


TAHUN BARU IMLEK
Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) yang berada di bawah BAKIN menerbitkan tidak kurang dari 3 jilid buku masing-masing setebal 500 halaman, yaitu "Pedoman Penyelesaian Masalah Cina" jilid 1 sampai 3 sebagai salah satu bagian dari ketegasan rejim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto yang menganggap keturunan Tionghoa dan kebiasaan serta kebudayaan Tionghoa, termasuk agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa, sebagai "masalah" yang merongrong negara dan harus diselesaikan secara tuntas

Kementrian Dalam Negri juga menerbitkan SE Mendagri No.477 / 74054 tahun 1978 tertanggal 18 Nopember 1978 tentang pembatasan kegiatan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, yang berisi antara lain bahwa pemerintah menolak untuk mencatat perkawinan bagi yang Beragama Khonghucu dan penolakan pencantuman Khonghucu dalam kolom Agama di KTP yang didukung dengan adanya kondisi sejak tahun 1965-an atas penutupan serta larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa yang menyebabkan terjadi eksodus dan migrasi identitas diri sebagian besar orang-orang Tionghoa ke dalam Agama Kristen Protestan dan Katolik, Buddha dan juga Islam. Hal tersebut mengakibatkan seluruh perayaan ritual kepercayaaan, agama serta adat istiadat Tionghoa, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi surut dan pudar

Surat dari Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Depag No H/BA.00/29/1/1993 menyatakan larangan untuk merayakan Tahun Baru Imlek di Vihara dan Cetya, lalu Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) mengeluarkan Surat Edaran No 07/DPP-WALUBI/KU/93 tertanggal 11 Januari 1993 yang menyatakan bahwa Tahun Baru Imlek bukanlah merupakan hari raya agama Buddha, sehingga Vihara Mahayana tidak boleh merayakan Tahun Baru Imlek dengan menggotong Toapekong dan juga acara Barongsai


TAHUN BARU IMLEK
Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967 serta mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya) dan pada tahun 2002, Tahun Baru Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga sekarang

Dengan dikeluarkannya Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres N0.14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa, etinis Tionghoa diberikan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan serta adat istiadatnya, termasuk merayakan Upacara-upacara Agama seperti Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh dan sebagainya secara terbuka


TAHUN BARU IMLEK
Pada Tahun Baru Imlek 2551 Kongzili (tahun 2000 Masehi), Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) mengambil inisiatif untuk merayakan Tahun Baru Imlek secara terbuka sebagai puncak ritual Agama Khonghucu secara nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid untuk hadir dalam acara tersebut dan pada tanggal 19 Januari 2001, Kementrian Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif

Saat menghadiri perayaan Imlek 2553 Kongzili yang diselenggarakan Matakin di bulan Februari 2002 Masehi, Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan bahwa mulai tahun 2003, Tahun Baru Imlek menjadi Hari Libur Nasional dan ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek tertanggal 9 April 2002

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK DI INDONESIA


TAHUN BARU IMLEK
Perayaan Tahun Baru Imlek biasanya berlangsung selama 15 hari, dimana hari raya Imlek, bagi etnis Tionghoa merupakan suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur) dan itulah sebabnya pada Hari Raya Imlek, anggota keluarga akan mengunjungi rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur untuk bersembahyang atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang

TAHUN BARU IMLEK
Pada malam tanggal 8 menjelang tanggal 9 pada saat Cu Si (jam 23:00-01:00) Umat melakukan sembahyang lagi yang disebut Sembahyang "King Thi Kong" (Sembahyang Tuhan Yang Maha Esa) dan dilakukan di depan pintu rumah menghadap langit lepas dengan menggunakan altar yang terbuat dari meja tinggi berikut sesaji berupa Sam-Poo (teh, bunga, air jernih), Tee-Liau (teh dan manisan 3 macam), Mi Swa, Ngo Koo (lima macam buah), sepasang Tebu dan beberapa peralatan seperti Hio-Lo (tempat dupa), Swan-Loo (tempat dupa ratus/bubuk), Bun-Loo (tempat menyempurnakan surat doa) dan Lilin Besar

Pada hari Cap Go Meh (tanggal 15 Imlek saat bulan purnama), etnis Tionghoa melakukan sembahyang penutupan perayaan Tahun Baru Imlek antara Shien Si (jam 15:00-17:00) dan Cu Si (jam 23:00-01:00), dimana upacara sembahyang dengan menggunakan Thiam hio atau upacara besar tersebut dinamakan Sembahyang Gwan Siau (Yuanxiaojie)

Sembahyang kepada Tuhan wajib dilakukan tidak saja pada hari-hari besar, namun juga setiap hari pagi dan malam pada tanggal 1 dan 15 Imlek serta hari-hari lainnya

By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...