Welcome to Indonesia Hebat

Website nomor 1 Indonesia
Saatnya kebaikan membawa Indonesia Hebat kembali menjadi Macan Asia bersama Jokowi-JK

Smiley face
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2015

Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi

Tidak ada komentar:
Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi

Sebagaimana telah diketahui bersama, pakar teknik sipil Institut Teknologi Bandung pada 1960-an Prof. Sedyatmo meyakini bahwa kondisi geografis dua pulau utama Indonesia (Jawa dan Sumatera) dapat ditaklukkan lewat pembangunan jembatan dengan tujuan agar kendaraan darat bisa menyeberang dari masing-masing sisi pulau dan dari sinilah awal mula ide membangun Jembatan Selat Sunda (JSS)

Di era Presiden Soekarno, proyek tersebut dikenal dengan sebutan "Tri Nusa Bima Sakti", namun sempat terkubur lama dan mulai digulirkan kembali pada tahun 1988, dimana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang saat itu dipimpin BJ Habibie mulai melakukan penghitungan biaya dan untuk membangun jembatan 29 kilometer yang melintasi Selat Sunda tersebut diperlukan dana hingga Rp 100 triliun sebelum Indonesia dihantam badai krisis moneter 1997-1998

Ide megaproyek tersebut kembali terkubur setelah badai krisis menerpa Indonesia hingga akhirnya kembali dihidupkan kembali di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dimana pengusaha Tomy Winata ditunjuk sebagai rekanan swasta untuk mewujudkan megaproyek tersebut melalui konsorsium Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) yang merupakan gabungan anak usaha Artha Graha yakni PT Bangungraha Sejahtera Mulia yang mewakili pihak swasta serta BUMD dari Banten dan Lampung

Kawasan yang berada di dua pulau besar (Jawa dan Sumatera) rencananya akan dihubungkan dengan sebuah jembatan senilai Rp 225 triliun dengan panjang 27,4 kilometer dengan harapan konstruksi awal sudah mulai dilakukan pada tahun 2015 dan memakan waktu 10 tahun, sehingga jembatan tersebut jembatan tersebut dapat beroperasi pada tahun 2025. Untuk merealisasikan megaproyek tersebut, lahirlah Peraturan Presiden Nomor 86 tahun 2011 tentang Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS) atau Jembatan Selat Sunda (JSS), dimana pengusaha Tomy Winata sebagai pihak ketiga meminta penjaminan dari pemerintah untuk menjalankan proyek tersebut dan konsorsium Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) disebut-sebut sudah menggelontorkan dana cukup banyak buat menggelar studi pra-kelaikan dengan nominal Rp 1,5 triliun



Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Meski demikian, hingga pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lengser, kelanjutan realisasi megaproyek tersebut tidak kunjung jelas dan saat pemerintahan berganti, kebijakan yang diambil tidak sama, dimana Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menghentikan megaproyek tersebut. Tidak berminatnya Jokowi melanjutkan rencana megaproyek tersebut sudah terlihat sejak belum resmi menjadi presiden, dimana salah satu pertimbangannya adalah dana yang sangat besar untuk menggarap proyek tersebut dan Jembatan Selat Sunda (JSS) tidak cukup menguntungkan bila hanya berupa jalan bebas hambatan yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa. Jokowi menilai dari hitung-hitungan awal, megaproyek tersebut baru bisa balik modal dalam kurun 30 tahun

"Kalau kita punya duit lagi, sudah kaya raya ya beda. Mau tiap pulau disambungin dengan jembatan ya bisa saja," jelas Jokowi



Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Jokowi lebih memilih untuk mengoptimalkan jalur laut sebagai transportasi distribusi logistik, dimana setelah dihitung-hitung oleh Jokowi, menggunakan transportasi air lebih menguntungkan dibandingkan membangun jembatan. Menurut Jokowi, negara yang memiliki laut yang lebih mendominasi akan memaksimalkan jalur air sebagai jalur distribusi logistik dan pembangunan serta pengembangan pelayaran tersebut akan diikuti dengan pembangunan dermaga dengan harapan pengiriman logistik antar pulau akan berjalan lancar


Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Secara terpisah, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof A Chaniago mengungkapkan bahwa megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS) tersebut dianggap tidak selaras dengan visi-misi Jokowi

"Alasannya, megaproyek senilai lebih 225 triliun itu dianggap tidak selaras dengan visi-misi Presiden Joko Widodo. Sampai sekarang tidak pernah ada pernyataan dari Presiden akan memasukkan JSS ke program infrastruktur pemerintah," kata Andrinof A Chaniago di Kantor Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta beberapa waktu lalu



Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Andrinof A Chaniago menambahkan bahwa Jembatan Selat Sunda (JSS) justru dianggap dapat menghilangkan identitas maritim, karena akan mengurangi aktivitas penyeberangan melalui laut di Selat Sunda dan jembatan tersebut belum bisa dibangun paling tidak untuk 10-15 tahun ke depan

"Saya yakin JSS bukan pilihan, setidak-tidaknya untuk 10-15 tahun ke depan," ungkap Andrinof A Chaniago

Andrinof A Chaniago juga menjelaskan bahwa daripada membangun jembatan senilai Rp 225 triliun, pemerintah memilih memperbaiki infrastruktur Pelabuhan Merak, Banten serta Pelabuhan Bakauheni, Lampung dan dana tersebut juga dapat digunakan untuk meremajakan moda transportasi laut yang melintas di Selat Sunda

"Lebih baik kita tingkatkan pelayanan di perhubungan laut, bagaimana pelayanan penumpangnya aman, nyaman, bagus, layak, kondisi kapal nyaman. Kemudian kalau dermaganya kurang, ditambah. Itu lebih penting," tegas Andrinof A Chaniago



Kandasnya megaproyek Tomy Winata Rp 225 triliun di tangan Jokowi
Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menegaskan bahwa pemerintah memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS), karena megaproyek tersebut tidak seirama dengan konsep pembangunan maritim yang digagas pemerintahan Jokowi-JK

"(Jembatan Selat Sunda) itu kan masih ide dan wacana. Ditambah sekarang tidak sejalan dengan konsep doktrin kemaritiman," ungkap Sofyan Djalil saat ditemui di Kantornya, Jakarta beberapa waktu lalu

Sofyan Djalil juga mengungkapkan alasan lain, yaitu kelanjutan megaproyek terebut sudah tidak jelas sejak pemerintahan sebelumnya

"Pemerintah sebelumnya kan juga belum memutuskan go ahead," lanjut Sofyan Djalil

By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Menaker Teriak dan Lompat Pagar Saat Sidak Penampungan TKI

Tidak ada komentar:
Menaker Teriak dan Lompat Pagar Saat Sidak Penampungan TKI
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Menaker Teriak dan Lompat Pagar Saat Sidak Penampungan TKI

Sebagaimana telah diketahui bersama, situasi di Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Elkari Makmur Sentosa yang terletak di Jalan Asem Baris Raya, Gang Z, Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu mendadak ramai, dimana Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dakhiri melakukan sidak. Saat itu lokasi penampungan berbentuk rumah tersebut terlihat tertutup rapat dan fiber panjang berwarna biru menutupi semua bagian pagar, sehingga aktivitas para tenaga kerja di tempat penampungan tersebut tidak dapat dilihat dari luar, bahkan tidak terdapat papan petunjuk tempat penampungan di lokasi tersebut

Menaker Teriak dan Lompat Pagar Saat Sidak Penampungan TKI
Saat tiba di lokasi, Muhammad Hanif Dakhiri sempat meminta izin kepada ibu asrama untuk masuk dan meninjau lokasi, namun izin tersebut tak diberikan, sehingga akhirnya Muhammad Hanif Dakhiri marah kepada pengurus tempat penampungan tersebut

"Buka pintu pagarnya. Saya Hanif Dakhiri, Menteri Tenaga Kerja, mau sidak dan cek lokasi ini. Kalau tidak dibuka, saya tutup tempat penampungan ini," teriak Muhammad Hanif Dakhiri

Teriakan tersebut membuat warga terkejut, sehingga mereka yang awalnya hanya berada di dalam rumah akhirnya keluar dan mengerumuni lokasi penampungan. Meski Muhammad Hanif Dakhiri telah mengeluarkan bentakan, pintu pagar masih tetap tidak dibuka, karena pihak pengurus berdalih ingin meminta izin terlebih dahulu kepada pimpinan perusahaan, sehingga Muhammad Hanif Dakhiri akhirnya memerintahkan ajudannya untuk membongkar fiber penghalang pagar tersebut. Muhammad Hanif Dakhiri lalu berpijak di jok motor, melompati pagar dan masuk ke dalam rumah


Menaker Teriak dan Lompat Pagar Saat Sidak Penampungan TKI
Di dalam tempat penampungan tersebut, ada 43 calon TKI yang berkumpul di ruang tamu dan kondisi mereka cukup memprihatinkan, dimana mereka sehari-hari melakukan aktivitas belajar, makan dan tidur di tempat tersebut, bahkan, lokasi penampungan tersebut hanya menyediakan satu kamar mandi untuk dipakai beramai-ramai. Tempat penampungan tersebut jauh dari standar yang ditetapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja berdasarkan Permen 07 Tahun 2005 tentang Standaridsasi Penampungan TKI, dimana salah satu standar yang ditetapkan ialah satu orang mendapat satu kasur untuk tidur, namun di lokasi tersebut satu kasur justru digunakan untuk beberapa orang

"Ini tidak benar ini. Tidak sesuai dengan standar aturan," kata Muhammad Hanif Dakhiri

Menurut pengakuan para TKI, mereka rencananya akan disalurkan ke sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, dimana sebagian besar dari mereka berasal dari wilayah Cirebon, Jawa Barat dan sudah berada di tempat penampungan itu selama satu bulan

"Waktu datang ke sini saya bareng sama sekitar tujuh orang," ungkap salah seorang calon TKI

By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...