Welcome to Indonesia Hebat

Website nomor 1 Indonesia
Saatnya kebaikan membawa Indonesia Hebat kembali menjadi Macan Asia bersama Jokowi-JK

Smiley face
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juni 2017

Inilah Pelopor Penjual Soto Lamongan di Jakarta

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Inilah Pelopor Penjual Soto Lamongan di Jakarta

Sebagaimana telah diketahui bersama, Soto Lamongan yang kini tersebar di berbagai kota di Indonesia dan eksistensinya sudah bisa disejajarkan dengan Warung Tegal ataupun Warung Padang. Meski demikian, ada banyak cerita di balik penyebaran kuliner kebanggaan masyarakat Lamongan, Jawa Timur tersebut, dimana salah satu kota yang pertama kali didatangi ialah Jakarta sebelum menyebar ke pelosok Nusantara

"Bermula tahun 1952, orang yang bernama Askari dari desa Siman, Lamongan mulai merantau ke Jakarta, lalu jualan soto ayam dari desanya," cerita Soen'an Hadi Purnomo selaku Ketua Putra Asli Lamongan (Pualam) saat ditemui di Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada hari Selasa tanggal 06 Juni 2017


Inilah Pelopor Penjual Soto Lamongan di Jakarta


Soen'an Hadi Purnomo menjelaskan bahwa pada awalnya terdapat dua kali gelombang rantau masyarakat Lamongan yang berjualan soto, yaitu pada tahun 1952 rombongan Askari dan 1960-an rombongan Haji Abbas yang berasal dari Desa Siman, Lamongan, Jawa Timur. Saat itu alasan warga Lamongan merantau ialah Lamongan masih merupakan kota kecil yang saat musim kemarau kering hingga retak, sedangkan musim hujan pasti banjir, sehingga para pemuda tidak memiliki pilihan selain merantau dan salah satunya untuk berjualan soto

"Dalam peribahasa kita disebutnya 'yen ketigo ora biso ndodok, yen rendeng ora biso cewok', maksudnya kalau kemarau itu kering sekali sampai tanah retak-retak, begitu musim penghujan malah banjir. Jadi ya pada merantau semua, tapi ternyata pada sukses, dan pulang ke kampung memperbaiki rumahnya, akhirnya pada ikutan semua," lanjut Soen'an Hadi Purnomo

Salah satu pelopor Soto Lamongan yang mulai berjualan di Jakarta sejak tahun 1963, yaitu Jali Suprapto (74 tahun) asal Desa Siman, Lamongan yang saat itu berada di kedai masakan Lamongan miliknya di Menteng, Jakarta Pusat pada hari Senin tanggal 05 Juni 2017. Jali Suprapto kini tinggal sendiri dan memetik hasil jerih payahnya puluhan tahun lalu, sedangkan teman-teman seperjuangannya pada tahun 1960-an telah tiada

Soen'an Hadi Purnomo menduga bahwa saat ini di Jakarta para pelopor Soto Lamongan gelombang pertama sudah sulit diketahui, karena mungkin telah berkembang dan kini tinggal anak cucunya yang mengelola. Saat ini Jali Suprapto masih aktif mengecek kedai kuliner Lamongan yang diteruskan oleh anak laki-laki bersama istrinya di Menteng, Jakarta Pusat. Kedai Soto Lamongan yang Jali Suprapto rintis saat ini lebih terkenal dengan Sate Sabang dan Soto Lamongan Jaya Agung yang berlokasi di perempatan Jalan Sabang

"Ya dulu saya sama kawan berlima datang ke sini, awalnya kerja ikut teman karena gak dikasih modal sama orang tua, belum percaya kalau bisa sukses. Beda sama sekarang bisa sampai jual sawah buat modal," cerita Jali Suprapto sambil mengenang masa perjuangannya dulu


Inilah Pelopor Penjual Soto Lamongan di Jakarta


Jali Suprapto mencoba berjualan Soto Lamongan dan Soto Madura sejak tahun 1963, dimana saat itu harga satu porsi soto sebesar Rp 15,- dan pikulan masih menjadi alat terbaiknya untuk menjajakan soto tersebut di sekitar Jakarta Pusat. Saat itu usia Jali Suprapto masih 20 tahun dan kuat memikul panci soto yang penuh air

"Dulu di Jakarta para penjual soto lamongan gak berani pake nama Lamongan, tulisannya soto madura dari Surabaya, atau soto jawa timur. Akhirnya didorong sama komunitas dan teman-teman rantaunya untuk berani pakai nama Lamongan," beber Soen'an Hadi Purnomo di tempat berbeda

Seiring perkembangannya, kisah sukses Jali Suprapto dan kawannya pun kian mengalir ke kampung-kampung di Lamongan. Pada tahun 1970 an warga yang merantau tidak hanya dari Desa Siman, namun ada juga dari Desa Ngayung dan lainnya untuk berjualan Soto Lamongan

Semakin banyaknya warga Lamongan yang merantau dan dengan mayoritas bermata pencarian berjualan soto, sehingga akhirnya dibuat wadah Forum Silaturahmi Putra Asli Lamongan yang dikenal dengan Putra Asli Lamongan (Pualam) pada tahun 1972

"Dari situ Pualam yang mengedukasi untuk percaya diri menggunakan kata Soto Lamongan, mensupport dari segi permodalan, pembelajaran usaha dan yang lainnya. Tak heran semakin banyak yang merantau dan membantu ekonomi di kampungnya," ungkap Soen'an Hadi Purnomo

Setelah Jakarta menjadi tujuan yang menjanjikan bagi penjual Soto Lamongan, barulah kuliner tersebut bergerilya ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. Soen'an Hadi Purnomo mengungkapkan bahwa saat ini Soto Lamongan sudah benar-benar tersebar ke hampir semua provinsi di Indonesia

"Sekarang bisa dibilang sejajar lah persebarannya sama Warug Tegal dan Warung Nasi Padang," tutup Soen'an Hadi Purnomo




By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Ini Perbedaan Soto Lamongan dengan Soto Lainnya

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Ini Perbedaan Soto Lamongan dengan Soto Lainnya

Sebagaimana telah diketahui bersama, selain keragaman suku dan budaya, Indonesia juga kaya akan kuliner dan salah satunya ialah soto, dimana menurut Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, ragam jenis soto Nusantara mencapai 40 jenis

Meski demikian, dari banyaknya ragam soto tersebut, tetap ada perbedaan di antara semuanya dan salah satunya ialah Soto Lamongan yang semakin tersohor akibat tersebarnya kedai-kedai Soto Lamongan di seantero Nusantara

"Soto lamongan itu mewakili Jawa Timur banget, di sampingnya ada soto madura. Memang hampir mirip tapi punya ciri khas di antara keduanya juga sama soto lain," ungkap Vonny selaku pemilik Resto Soto Lamongan Kedoya, Jakarta Barat (berdiri sejak tahun 1980) pada hari Selasa tanggal 06 Juni 2017


Ini Perbedaan Soto Lamongan dengan Soto Lainnya


Ciri khas yang selalu melekat dari resep leluhur Soto Lamongan ialah terdapat taburan koya dan daging ayam yang diiris menyamping, namun tidak hancur

Agar daging ayam tidak hancur dipotong menyamping, kita harus menggunakan daging ayam kampung atau sejenis yang yang memiliki daging padat rekat dan tidak seperti ayam negeri atau broiler

Selain itu, hal yang tidak boleh dilupakan ialah keberadaan kol dan daun bawang, namun tanpa tomat, sedangkan soto di daerah barat Pulau Jawa, seperti Soto Bandung dan Soto Betawi cenderung polos dan berisi daging

Kuah Soto Lamongan sendiri akan terasa berbeda dengan yang lain, terutama dari warna kuning yang dihasilkan dari rempah kunyit, sedangkan bumbu lainnya tidak jauh berbeda dengan soto Jawa Timur yang cenderung asin gurih, seperti bawang, lada, kemiri, ketumbar hingga jahe

"Yang paling mencolok dari kuahnya sebelum dicoba itu Soto Lamongan gak pakai santen atau susu, tapi pakai rempah kunyit jadi kuning, beda sama (soto) kudus yang kecoklatan," beber Vonny

Koya yang terbuat dari dominan bawang putih bubuk dan kerupuk tersebut berguna sebagai penyedap dan juga pengental kuah Soto Lamongan agar lebih pekat

Cita rasa Soto Lamongan yang khas tersebut ternyata tidak cocok dengan kecap manis

"Dari sananya sudah seperti itu, jarang masakan Jawa Timur yang manis. Makanya cara nyari tahu asal orang yang makan di resto saya lihat dia pakai kecap apa enggak di sotonya. Kalau pakai (kecap), kemungkinan bukan Jawa Timur, bisa jadi Jawa Tengah yang dominan masakan manis," ungkap Vonny

Meski begitu, Vonny mengembalikan ke selera pengunjungnya dan tetap menyediakan kecap manis di samping kecap asin untuk setiap meja di Resto Soto Lamongan




Ini Perbedaan Soto Lamongan dengan Soto Lainnya


By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Tak Perlu ke Luar Negeri, Laut Mati Juga Ada di Daerah Ini

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Tak Perlu ke Luar Negeri, Laut Mati Juga Ada di Daerah Ini

Sebagaimana telah diketahui bersama, tempat wisata Laut Mati yang ada di Pantai Tureloto, Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara merupakan salah satu tempat wisata yang menarik dan menyenangkan

Hal tersebut dibuktikan sepasang wisatawan asal Jerman yang mengaku bahwa air laut di sana terasa sangat asin

"Air laut terasa hangat dari laut Baltik dan sangat jauh lebih hangat dari kutub utara, bahkan tak perlu berenang hanya dengan mengapungkan badan saja sudah cukup, dan akan terapung dengan sendirinya," jelas Knutch (salah seorang wisatawan asal Jerman) pada hari Selasa tanggal 06 Juni 2017


Tak Perlu ke Luar Negeri, Laut Mati Juga Ada di Daerah Ini


Knutch bersama istrinya, yaitu Helga mencoba menjajal keindahan pantai dan taman bawah laut di perairan Tureloto, Kabupaten Nias Utara, dimana untuk menempuh lokasi tersebut dari Kota Gunungsitoli menuju Pantai Tureloto dapat ditempuh selama dua jam. Pantai Tureloto bagaikan Laut Mati yang sangat menyenangkan apabila wisatawan menggunakan perahu nelayan untuk mengelilingi batu-batu karang berbentuk pulau kecil yang berada di depannya

"Ada juga lokasi spot diving yang layak dicoba para diver," jelas Knutch

Dalam perjalanan menuju titik spot, Knutch mengaku bahwa dirinya sangat mengagumi keindahan Pantai Tureloto, terutama keindahan pantai dengan air yang jernih serta karang otak di permukaan laut, sehingga kita dapat melihat keseluruhan taman indah di bawah laut di Pantai Tureloto dan juga susunan batu karang berupa atol kecil di tengah lautan luas


Tak Perlu ke Luar Negeri, Laut Mati Juga Ada di Daerah Ini


Yanuarman Gulo (salah satu warga setempat yang juga sebagai pelaku usaha Tureloto Park) mengaku bahwa Pantai Tureloto sama seperti Laut Mati yang ada di Jordania dan desa Tureloto memiliki pantai yang tenang tanpa ombak

Di tepi Pantai Tureloto terdapat gugusan karang dengan air lautnya biru serta jernih membuat ikan-ikan kecil di karang pun bisa langsung terlihat dari atas

"Pantai di laut ini bisa disebut Laut Mati karena kadar garamnya tinggi sekali," ungkap Yanuarman Gulo pada hari Selasa tanggal 06 Juni 2017

Yanuarman Gulo menambahkan bahwa bahwa di Pantai Tureloto, pasca-gempa tahun 2005, sejumlah karang mengalami kenaikan setinggi satu hingga dua meter dan di permukaan kita dapat melihat karang-karang yang kasar


Tak Perlu ke Luar Negeri, Laut Mati Juga Ada di Daerah Ini


Di bawah laut kita dapat menikmati terumbu karang yang indah dengan biota karang yang banyak dan saat ini sudah banyak terumbu karang yang terlihat mulai tumbuh

Yanuarman Gulo juga menawarkan menu-menu makanan khas laut di Warung Perahu miliknya dengan harga terjangkau mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu

Pantai Tureloto biasanya ramai dikunjungi pada bulan Februari hingga September, dimana saat itu air laut tenang dan pancaran matahari tidak begitu terik, namun bersinar dengan indahnya




By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Kamis, 01 Juni 2017

Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia

Sebagaimana telah diketahui bersama, sebuah danau tidak hanya sejuk dipandang, namun banyak juga yang memiliki keunikan masing-masing dan di Indonesia ada tiga danau unik yang dapat berubah warna


Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia


Dari Wonosobo di Jawa Tengah sampai Moni di Flores, terdapat danau yang secara unik dapat berubah warna, sebagaimana dapat kita lihat di bawah ini:

1) Danau Kelimutu

Danau Kelimutu di Moni, Flores dikenal memiliki tiga danau kawah dengan warna berbeda dan dapat berubah-ubah tanpa ada siapapun yang dapat memprediksi. Kadang biru, kadang merah, kadang hitam dan selalu berubah selama kurun 25 tahun terakhir

Oleh masyarakat Suku Lio yang tinggal di sekeliling Danau Kelimutu, berubahnya warna Danau Kelimutu dipercaya masyarakat Suku Lio yang tinggal di sekeliling danau Kelimutu tersebut sebagai akibat kekuatan gaib yang menyelimuti gunung tersebut. Masyarakat Suku Lio sendiri menyucikan Gunung Kelimutu, sehingga tidak boleh sembarangan bertingkah laku ketika berada di Gunung Kelimutu

Menurut kepercayaan Suku Lio, kawah Gunung Kelimutu merupakan tempat bersemayamnya arwah orang-orang yang telah meninggal dan ketiga Danau Kelimutu juga memiliki nama yang berbeda sesuai dengan peruntukannya. Warna Danau Kelimutu juga menjadi perlambang arwah siapa saja yang tinggal dan bersemayam di sana




Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia


Danau pertama ialah Tiwu Ata Mbupu yang letaknya sedikit terpisah dengan dua danau lainnya yang bersebelahan. Tiwu Ata Mbupu juga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah tetua adat yang telah meninggal

Sementara dua danau lainnya letaknya bersebelahan, yaitu Tiwu Nuwa Muri Ko'ofai yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah pemuda-pemudi yang tah meninggal dan Tiwu Ata Polo yang konon berisi arwah para tukang tenung ataupun orang-orang jahat

Masing-masing warna danau juga menjadi perlambang arwah yang tinggal di sana, dimana Tiwu Ata Mbupu mewakili para tetua adat berwarna biru tua, Tiwu Nuwa Muri Ko'ofai mewakili arwah muda-mudi berwarna biru muda dan Tiwu Ata Polo mewakili arwah jahat memiliki warna merah darah

Kepercayaan tersebut terkait dengan cerita rakyat yang begitu melegenda di kalangan suku Lio, yaitu pertempuran sisi baik yang diwakili Ata Mbupu (tetua adat yang bijaksana) dan sisi gelap yang diwakili Ata Polo (dukun jahat), dimana kedua tokoh tersebut bertempur dan akhirnya sisi baik lah yang menang

Terlepas dari berbagai mitos yang menyelimuti Danau Kelimutu, danau cantik tersebut memang menarik untuk dikunjungi dan selain turis lokal, turis mancanegara pun seringkali mengunjungi danau tersebut, karena terpesona dengan keindahannya

2) Danau Telaga Warna

Di Wonosobo, Jawa Tengah ada Danau Telaga Warna yang juga sangat populer dan nama Danau Telaga Warna disematkan sebagai bukti keunikan Danau Telaga Warna yang sering berubah warna. Selain memiliki warna hijau lumut, warna di Danau Telaga Warna tersebut juga dapat berubah menjadi kuning hingga hijau toska, bahkan terkadang erlihat warna-warni seperti pelangi

Fenomena unik Danau Telaga Warna yang dapat berubah warna tersebut disebabkan oleh tingginya tingkat sulfur yang ada di dalam Danau Telaga Warna, dimana dataran tinggi Dieng sangat kaya akan gas alam, sehingga warna air di Danau Telaga Warna yang sangat kaya akan sulfur pun seringkali berubah ketika disinari sinar matahari




Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia


Jika ingin melihat keindahan Danau Telaga Warna, Anda dapat masuk dari pintu kawasan wisata Danau Telaga Warna yang kini tengah direnovasi, namun apabila ingin mendapat sudut cantik dari Danau Telaga Warna, Anda dapat melihat danau tersebut dari Bukit Ratapan Angin yang akses masuknya berdekatan dengan Dieng Plateu Theater

Anda juga dapat memarkirkan kendaraan Anda di Dieng Plateau Theater, dilanjutkan dengan tracking singkat sepanjang 50 meter ke pos penjagaan dan setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 10 ribu di pos penjagaan, Anda harus tracking lagi sejauh 100 meter hingga tiba di Bukit Ratapan Angin

3) Danau Linow

Danau Linow di Tomohon, Sulawesi Utara juga dapat berubah warna dan dari pusat kota Tomohon, Danau Linow dapat dicapai dengan berkendara sekitar 10 menit saja

Area Danau Linow begitu luas, yaitu mencapai 35 hektar dan Danau Linow berbeda dengan kebanyakan danau lainnya, karena mengandung belerang yang membuat warna Danau Linow dapat berubah-ubah menjadi sekitar tiga warna berbeda, yaitu hijau, kuning dan coklat. Bila Anda berjalan ke tepian Danau Linow, bau belerang akan tercium dan kalau menyentuh air Danau Linow, suhunya cukup hangat. Kandungan belerang di Danau Linow tidak terlalu tinggi dan tidak berbahaya. Selain itu, rumput pun masih hidup di tepian Danau Linow

Untuk menyaksikan pemandangan Danau Linow yang mempesona tersebut pastinya menyenangkan, ada beberapa spot yang Anda dapat pilih untuk menikmati keindahan danau tersebut, mulai dari melihat dari ketinggian dengan gratis ataupun dari spot lain yang lebih dekat dengan biaya masuk mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu




Inilah Danau Ajaib yang Bisa Berubah Warna di Indonesia


By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Pancasila Dibuat Soekarno di Taman Ini

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Pancasila Dibuat Soekarno di Taman Ini

Sebagaimana telah diketahui bersama, Pancasila bukan dibuat Soekarno di Jakarta dalam sidang BPUPKI, namun jauh sebelum itu, Pancasila dirancang Soekarno dalam puncak renungan pada sebuah taman di Ende, NTT

Setiap tanggal 01 Juni masyarakat Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila dan dalam era pemerintahan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tanggal 01 Juni dijadikan hari libur nasional. Ternyata Pancasila lahir dari buah pikiran Soekarno ketika diasingkan di Ende antara tahun 1934-1938 dan selama empat tahun Soekarno banyak merenung di sebuah taman di Ende sambil berteduh di bawah pohon sukun sambil melihat laut. Masyarakat Indonesia baru tahu ketika Soekarno menceritakan pengalaman tersebut saat melakukan kunjungan kerja tahun 1955 ke Ende dan napak tilas ke taman tersebut

Di taman tersebut Soekarno merancang lima bulir yang menjadi dasar Pancasila dan melalui perenungan yang mendalam di taman tersebut Bung Karno mendapat ilham bahwa negara Indonesia harus memiliki ideologi yang merangkum berbagai aspek kebangsaan. Dalam proses memikirkan Pancasila tersebut, Soekarno juga sering mampir ke Perpustakaan Keuskupan Nusa Indah untuk membaca. Selain itu, Soekarno juga kerap berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan para tokoh agama, mulai dari pastor hingga kelompok pengajian dan teater tonil

Melihat keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat, Soekarno terinspirasi dan akhirnya membuat ideologi Pancasila yang menaungi semua anak bangsa tanpa terkecuali. Bagi Anda yang liburan ke Ende, Anda masih dapat melihat lokasi lahirnya Pancasila di Taman Renungan Bung Karno yang berlokasi tidak jauh dari Pelabuhan Ende dan Rumah Pengasingan Bung Karno, namun pohon sukun yang asli telah lama tumbang dan sebagai gantinya, ditanam pohon sukun baru pada masa Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri

Taman Renungan Bung Karno tampak indah dan dipercantik dengan patung Soekarno yang tengah duduk sambil menghadap laut yang dibuat oleh pematung Hanafi serta diresmikan Wakil Presiden RI Boediono pada tahun 2013. Taman Renungan Bung Karno berlokasi sama dengan taman tempat Soekarno merenungkan Pancasila dulu

Selain menjadi lokasi lahirnya Pancasila, Taman Renungan Bung Karno juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang tidak boleh dilewatkan, dimana Anda dapat datang dan duduk di taman tersebut serta merenungkan waktu untuk memaknai Pancasila layaknya Soekarno dulu

"Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila," begitu tulisan prasasti di bawah pohon sukun

Lupakan segala aksi yang memecah belah bangsa dan ingatlah bahwa Indonesia berdiri sebagai satu bangsa setanah air di atas banyaknya perbedaan alias Bhineka Tunggal Ika




Pancasila Dibuat Soekarno di Taman Ini

By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Jumat, 26 Mei 2017

Inilah Kafe yang Bikin Pengunjung Seperti Camping di Gunung

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai Inilah Kafe yang Bikin Pengunjung Seperti Camping di Gunung

Sebagaimana telah diketahui bersama, di Indonesia ada kafe yang membuat para pengunjung merasa seperti camping di gunung, yaitu kafe Travel Mie yang berlokasi di Jl Raya Mulyosari 171, Surabaya, Jawa Timur. Saat kita memasuki kafe Travel Mie tersebut, kita akan melihat sebuah papan kecil bertuliskan "Congratulation. You are now at Puncak Soerabaia 0003 m dpl" yang menunjukkan seolah kafe Travel Mie tersebut berada di dataran tinggi

Di dalam kafe Travel Mie ada deretan 10 tenda berukuran medium di pinggir dan satu tenda besar di pojok cafe serta deretan meja kursi dari kayu di bagian tengah yang membuat ciri khas cafe tetap ada. Jika diamati secara sekilas, kafe Travel Mie seolah-olah berada di dataran tinggi, namun sebenarnya kafe Travel Mie tersebut tidak berada di dataran tinggi dan kafe tersebut menciptakan suasana camping ala pendaki seperti di pegunungan

Untuk menciptakan persis seperti di gunung, kafe Travel Mie menempatkan tenda-tenda gunung, dimana konsumen bebas nongkrong di dalam tenda-tenda gunung tersebut sambil memesan beberapa menu yang tersedia. Di tengah kafe Travel Mie terdapat tumpukan kayu yang dibentuk mengerucut dan di puncak kerucutnya dipasang lampu, sehingga seolah-olah tampak seperti api unggun

Selain itu, setiap 15 menit sekali muncul asap buatan dari langit-langit yang menggambarkan kondisi kabut ala pegunungan dan wallpaper besar bergambar gunung menambah kentalnya suasana gunung dalam kafe Travel Mie yang menggambarkan suasana seperti yang ada di pegunungan, termasuk adanya tenda bagi pelayan yang digunakan mengolah menu bagi konsumen

Untuk menambah kenyamanan, di dalam tenda-tenda gunung tersebut juga disediakan kipas angin kecil agar tidak pengap dan sebagaimana layaknya tenda yang dipakai pendaki di gunung, konsumen dapat memanfaatkan tenda-tenda gunung tersebut untuk ngobrol sekaligus menikmati kudapan ringan yang telah dipesan. Tenda kecil dapat menampung maksimal empat konsumen, sedangkan tenda besar dapat menampung sembilan orang sekaligus dan karena tempatnya agak tertutup, konsumen dapat menggunakannya untuk ngobrol sembari leyeh-leyeh dan ada juga konsumen keluarga yang membawa anaknya serta menidurkannya di dalam tenda

Selain itu, kafe Travel Mie juga menyuguhkan hiburan musik dari band lokal, mulai dari lagu pop hingga keroncong, setiap hari Jumat hingga Minggu mulai pukul 20:00 hingga 23:00 WIB yang menambah kesemarakan kafe Travel Mie, dimana konsumen dapat berlama-lama nongkrong di kafe Travel Mie

Suasana kafe Travel Mie yang didesain layaknya berada di pegunungan tersebut diapresiasi positif oleh konsumen, seperti penuturan warga asing dari Madagaskar, yaitu Stefani (24 tahun) yang kuliah di Unair dan mengaku bahwa dirinya baru pertama kali datang ke kafe Travel Mie

"Saya dan teman ingin ke cafe. Ketika saya lewat, ada cafe yang pakai tenda. Saya lalu mencobanya," tutur Stefani dengan Bahasa Indonesia cukup fasih pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 2017

Stefani lalu mencoba tenda yang tersedia di dalam kafe Travel Mie sambil menikmati menu mie kuah, dimana Stefani menilai bahwa yang disuguhkan kafe Travel Mie tersebut cukup kreatif. Selain tenda, dekorasi pegunungan juga memperkuat suasana camping di gunung

"Saya melihatnya, memang belum pernah ada yang mengusung konsep seperti ini," lanjut mahasiswi FISIP Unair tersebut

Reaksi serupa juga ditunjukkan Samuel (25 tahun) yang merupakan salah seorang warga Jl Medokan Ayu, dimana pria asal Kalimantan Barat tersebut mengaku bahwa dirinya telah tiga kali datang ke kafe Travel Mie dan pria yang memang suka travelling tersebut jatuh cinta dengan konsep camping ala pendaki di kafe Travel Mie

"Konsep dan suasana ini kreatif dan saya pikir belum ada di Surabaya. Ada tenda, api unggun mainan dan asap mirip kabut. Suasana berasa seperti di gunung," tutur Samuel

Saat itu Samuel juga mengajak pacarnya, yaitu Serena (23 tahun) untuk menikmati mie yang dipesan di kafe Travel Mie dan perempuan asal Bekasi tersebut juga cukup terkesan dengan suasana dalam kafe Travel Mie

"Berada di tenda, berasa seperti di gunung. Apalagi di cafe ini tersedia beberapa menu ringan, terutama mie," kata gadis yang kos di Jl Ambengan tersebut

Berawal dari konsep pegunungan, dimana semua pendaki yang beristirahat di tenda gunung pasti menyantap mie atau makanan instan dan hal tersebut yang menjadi inspirasi nama Travel Mie di kafe tersebut. Supervisor kafe Travel Mie, yaitu Eva Rosdia Wahyu menuturkan bahwa kafe Travel Mie berdiri pada bulan November 2016 silam dan berawal dari keinginan pemiliknya, yaitu Bara Aziz yang ingin menyalurkan hobinya travelling dan sekalian membuka bisnis

"Cafe ini dulu awalnya ada di Jakarta pada 2014 lalu. Dulu hanya buka usaha dengan dua tenda saja dan menunya mie saja," tutur Eva Rosdia Wahyu

Seiring waktu, bisnis tersebut berkembang pesat dan kafe Travel Mie kemudian dibuka di Surabaya dengan sistem franchise, kemudian dibuka di Malang dan konsep yang diusung juga sama persis, yakni dengan suasana camping ala pendaki

"Dengan konsep ini, maka segmen konsumen yang tertarik adalah mulai dari remaja hingga dewasa muda atau yang sudah bekerja. Konsumen yang datang berkelompok untuk menggelar arisan, reuni atau ulang tahun juga banyak," papar Eva Rosdia Wahyu

Meski konsep camping yang menjadi jualan utama, namun kafe Travel Mie juga menyediakan menu-menu makanan yang ringan namun tetap menarik para remaja hingga dewasa muda, dimana dengan menu Simaksi alias Surat Izin Memasuki Kawasan Travel Mie, konsumen dapat menikmati beberapa sajian mie instan Travel Mie dengan harga Rp 11-13 ribu

Selain itu, ada juga sajian Nasi Bakar dengan beberapa varian dengan harga Rp 13-17 ribu, Nasi Bakar Keju dengan beberapa rasa yang harganya Rp 18 ribuan dan yang terbaru ialah menu Sushi kering dengan beberapa varian rasa yang dibandrol Rp 13 ribuan

"Menunya tak hanya mie saja, tapi kami tambahkan dengan makanan ringan lainnya," tambah Eva Rosdia Wahyu

Dengan beragam menu tersebut konsumen dapat menyesuaikan selera lidah dengan suasana di kafe Travel Mie. Jika ingin menikmati sensasi camping ala pendaki, konsumen dapat menikmati santapan ringan di dalam tenda, apalagi jam buka kafe Travel Mie termasuk lama, yakni mulai dari pukul 11:00 hingga 24:00 WIB




Inilah Kafe yang Bikin Pengunjung Seperti Camping di Gunung


By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Minggu, 15 Mei 2016

5 Ksatria Pandawa di Bali

Tidak ada komentar:
Dalam artikel ini saya ingin membagikan info teraktual mengenai 5 Ksatria Pandawa di Bali

Sebagaimana telah diketahui bersama, pantai Pandawa di Bali punya keunikan, dimana berjejer patung 5 Ksatria Pandawa yang seolah menjaga pantai


5 Ksatria Pandawa di Bali


Dalam kisah Mahabharata (legenda umat Hindu) diceritakan perjuangan 5 Ksatria Pandawa melawan Korawa demi memperebutkan kerajaan Hastinapura, yaitu Arjuna, Bima, Yudistira, Nakula dan Sahadewa

Bagi yang penasaran bagaimana sosok 5 kstaria Pandawa tersebut, silahkan datang ke pantai Pandawa di Bali yag berlokasi di Desa Kutuh, Kecamatan Kutu Selatan, Kabupaten Badung. Di tebing dekat pantai Pandawa, ada patung 5 Kstaria Pandawa yang berwarna putih dan tingginya lebih dari 3 meter serta berada di dinding tebing yang dikeruk hingga membuat lubang besar

Menurut masyarakat setempat, patung 5 Ksatria Pandawa tersebut dibuat untuk seolah menjaga pantai Pandawa dan sekaligus juga menjadi keunikan serta daya tarik untuk turis, karena mungkin inilah satu-satunya pantai di Pulau Dewata yang memiliki jejeran patung-patung raksasa di pinggir pantai


5 Ksatria Pandawa di Bali


Dari lokasi yang paling atas, ada patung Dewi Kunti yang merupakan ibu dari 5 Ksatria Pandawa dan setelah itu secara berurutan dengan jarak sekitar 5 meter tiap patung, berdiri patung Dharma Wangsa (Yudistira), Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Tiap patung menghadap ke pantai Pandawa

Patung 5 Ksatria Pandawa tersebut merupakan sumbangsih dari berbagai perusahaan dan dari per orangan, seperti dari PT Bali Raga Wisata, Gavura Vista, Cicip S Sutardjo yang merupakan mantan Menteri Perikanan dan Kelautan RI dan lain-lain. Para wisatawan dilarang naik mendekati patung dan membuat suasana gaduh di sekitar patung. Tiket masuk ke dalam pantai Pandawa hanya Rp 2 ribu dan deretan warung makan serta fasilitas wisata lainnya di pantai Pandawa cukup memadai

Selain patung 5 Ksatria Pandawa, di pinggiran pantai Pandawa berjejer bangku-bangku panjang yang dilengkapi ayung untuk melindungi kita dari sinar matahari dengan harga sewa hanya Rp 50 ribu untuk dua bangku dan boleh dipakai sepuasnya

Pantai Pandawa cantik jelita, dimana garis pantai Pandawa membentang panjang, berpasir putih dan perairan biru jernih ada di depan pantai


5 Ksatria Pandawa di Bali


By: Rudy Haryanto
Continue Reading...

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...